Seorang
wanita berjubah hitam berjalan menembus gelapnya malam yang disertai hujan
lebat. Sosok itu membawa sebuah keranjang bayi yang setelah itu ia letakkan didepan
sebuah rumah yang bak istana. Wanita itu mengeluarkan secarik kertas dari
kantong jubahnya, segera ia tuliskan beberapa patah kata dan menaruh kertas itu
didalam keranjang.
Gemuruh
menggelegar seketika wanita itu berbondong lari. Terdengar tangisan bayi yang menyebalkan
dan serasa merusak gendang telinga. Sang pemilik rumah terbangun seketika dan
memeriksa kedelapan anaknya, ternyata tidak ada yang menangis. Ia lalu berjalan
kedepan dan menemukan sosok bayi perempuan jelek yang sepertinya di buang dan
tidak diinginkan lagi oleh orang tuanya. Ia menggendong bayi itu jijik. Ia
melihat sekeliling, tak ada siapapun. Akhirnya dia membawa bayi jelek itu masuk
dengan enggan. Bukan karena kasihan, tapi karena berisik. Lelaki kepala rumah
tangga itu, Ha Ki, segera menuju kedapur dan mengambil sepotong roti dikulkas,
lalu ia sumpal mulut bayi jelek itu agar tidak berisik, ia taruh dilantai
dapur, dan dia kembali tidur.
“Dasar
bayi jelek! Mengganggu tidurku saja. Diam kau disini” ucap Ha Ki seraya
meninggalkannya.
Keesokan
harinya
“aaaaaaa!!!”
teriak Rae Ra
Ia kaget
bukan kepalang melihat ada bayi jelek yang tidur dilantai dapurnya.
Seketika ia mengangkat bayi itu, melemparnya, dan segera membersihkan lantai
itu dengan cairan pembersih, anti septic, pembersih lagi, dan anti septic lagi.
“Suamiku,,,, siapa anak ini?”
“oooh... itu anak jelek yang tidak diinginkan oleh
keluarganya lagi”
“dari mana kau temukan? Apa kita akan mengasuhnya?
Anak kita saja ada 8 perempuan dan mereka cantik-cantik. Aku takut anak ini
menularkan virus jeleknya kepada putri kandung kita”
“didepan pintu.. eehh najong banget ngasuh tuh
anak.. ayah ambil dia buat jadi pembantu! Kan penghematan. Engga juga sih...
virus jelek dia gabakal nular ko ke anak-anak kandung kita. Mereka mah
cantiknya udah mutlak. Lagian kan ibu sama bapaknya juga kece. Gak kaya tuh
anak. Pasti bapak ibunya blangsak makanya buang anak sendiri”
“iya juga ya ayah.... yaudah deh.. trus sekarang
nih anak
jelek taro mana?”
“sementara belom bisa disuruh dan disiksa sih taro
digudang aja dulu”
“makanannya?”
“kasih aja makanannya si cemong kucingnya Wahyuni.. kan cemong kalo makan suka
ga abis. Mubazir. Kasih aja kedia”
“oke yaaah”
15 tahun kemudian................
Sijelek tumbuh besar dengan jelek yang tidak
sewajarnya. Hidupnya penuh dengan cacian, makian dan siksaan dari berbagai
pihak dirumah itu. Dirinya selalu salah karena memang dia tidak pernah benar.
Dia tidak sekolah karena tidak ada yang sudi membiayainya sekolah, dan kini
cemong pun sudah memilih untuk menghabiskan makanannya dari pada harus berbagi
dengan si jelek.
Sedangkan kedelapan putri kandung Lee Ha Ki dan
Han Rae Ra tumbuh dengan amat cemerlang, mereka cantik, pintar dan berguna
dimasyarakat. Mereka sekolah di International School dan semuanya mempunyai
seorang kecengan pangeran yang kaya dan tampan. Sebut saja Aga sebagai kecengan
Ade, Ali sebagai kecengan Asrini, Robby sebagai kecengan Isrotun, Nugrah
sebagai kecengan Nadiyya, Ageng sebagai kecengan Nuvi, xxxxxx Sebagai kecengan
Sakinah, Ayi sebagai kecengan Aya dan Massa sebagai kecengan Wahyuni. Sedangkan
sijelek? Sijelek? Sijelek? Kalau ia lewat, para lelaki pada menyorakinya
“sijeleksijeleksijeleksijelek” sampai sampai ada tarif 5000 untuk setiap sekali
menyebut “sijelek” tapi uangnya bukan untuk sijelek, melainkan untuk keluarga Lee
Ha Ki dan Han Rae Ra yang makin kaya raya dan bahagia sekarang.
Hari ini ada pesta dansa dirumah pangeran Nugrah
dan semua keluarganya Nadiyya diundang kecuali sijelek.
“jelek... jelek... mana sepatu aku?” kata nuvi
“jelek... cepet sisir rambut aku! Robby dah
nungguin dibawah” kata isrotun
“sebentar... tangan aku cuma dua” jawab sijelek
“ya pokoknya kita gamau tau! Mau tangan kamu satu,
dua, tiga, yang penting gaun aku cepetan... aku mau tampil cantik dipesta
nugrah! Aku gamau malu maluin dia” kata nadiyya seraya memakai bedak yang
membuatnya tambah cantik
“nih anak jelek pake jawab lagi! Udah deh niih
semir sepatu aku! Biar kinclong kaya muka aku” tambah ade
“jelek! Kamu belum kasih cemong parfum! Cepet
donk... lelet amat sih” seru wahyuni heboh sembari membawa cemong.
Setelah semua itu selesai,
“sakinah, kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu
“ kata sijelek yang nyadar kalo dirinya pembantu
“engga sekarang” jawab sakinah singkat
“jadi kapan?”
“nanti”
“ayodongg.. kan aku juga mau siap-siap. Seluruh
keluarga ini diundang kan sama pangeran nugrah?”
“helloooww.... keluarga ini aja yaa... keluarganya
aja bukan pembantunya!” seru aya sebel sambil menjambak rambut sijelek gemas
(bagian final#)
“aduuhh.. aduhh... aku juga kan?”
“emang kamu ngerasa jadi keluarga ini huh???? Kamu itu disini nothing! Galebih
penting dari sapi perah yang Cuma kita butuhin tenaganya aja” seru Rae Ra sang
ibu sambil menumpahkan seember baju kotor keatas kepala sijelek
“cuci tuh semuanya! Dan besok pagi harus udah
kering” kata asrini sambil menaruh baju kotornya juga
“awas aja kalau sampe kita pulang dan ini semuanya
belum beres.... awas kamu!” ancam Rae Ra
“beresin rumah juga!” tambah Ha Ki
“tapi yaah.. rumah ini sudah bersih. Tadi sore aku
sudah membereskannya”
“bersih?? Bersih?????? Bersih kata kamu?!
Girl.....” panggil Ha Ki ke anak-anaknya
“iya ayah” jawab mereka serempak
“rumah ini bersih??”
“sekarang iya, tapi enggak lagi” kata aya menumpahkan
secangkir kopi kelantai sambil mendorong si jelek hingga jatuh (bagian final
lagi#)
“sekarang lebih kotor dan berantakan” asrini
memecahkan dua buah piring kotor bekas makanan cemong
“ttapi... tapi aku gabisa nyuci ini ibu... tangan
aku alergian” kata sijelek memelas dengan muka sedihnya yang jelek itu.
“alergi?? Halahhh.. gamau tau!” kata Rae Ra
Akhirnya keluarga besar itu pergi kepesta pangeran
nugrah. Sementara si jelek hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang jelek itu
dipojokan.
Tiba-tiba...
Criiiiiinnnggggg#
Datanglah sesosok ibu peri cantik,
“ibu peri? Apakah kau akan menolongku?” ucap sijelek
Ibu peri melongok kaget.
“maaf maaf... apa ini rumah cinderella? Perasaan
cinderella cantik deh... kamu cinderella bukan?”
“bukan”
“jiaah ibu peri salah alamat dehh... yaudah deh
ibu peri buru-buru mau kasih sepatu kaca buat cinderella yang asli”
“ibu peri tunggu” cegah si jelek
“ada apa?”
“ttapi ibu peri, nasib aku juga seperti cinderella
niih.. berikanlah aku juga sepasang sepatu kaca untuk pergi kepesta pangeran
nugrah”
“ooh tidak bisaa.. maaf sekali, stok sepatu
kacanya tinggal satu, kalau kamu mau ada sih sendal jepit swallow. 6.000an aja
sih.. eumm karena tampangnya gamemungkinkan ibu peri kasih discon deeh jadi
5.950 aja. Niih mau yang ijo apa kuning?”
“ibu peri ko gitu?”
“mau engga?? Ayodong cepetan iih lelet deh”
“iya deh.. aku mau yang kuning ya...”
“yaudah niih sini mana duitnya”
“niih” sijelek menyodorkan uang 6.000
“gada kembali. Disconnya gajadi! Ddaah”
Criiiiiiiinnnggggg#
Ibu peri itu kembali menghilang.
Sijelek memandangi sendal jepit yang ada
ditangannya, lalu ia memakainya. Ia nekat kabur demi bisa kepesta pangeran
nugrah. Ia tau peraturannya tidak boleh lebih dari jam 12 malam, makanya dia
buru-buru keluar mengingat waktu sudah pukul setengah delapan.
Dijalan terdengar suara azan isya’ berkumandang.
Ia memutuskan untuk sholat isya’ dulu dimasjid terdekat. Setelah sholat,
kebiasaan jeleknya kambuh. Ceramahin orang seenak hati sampai tidak menyadari
bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia segera keluar dari masjid dan
betapa kaget bukan kepalang ketika ia melihat sendal swallow kuningnya hanya
tinggal sebelah kirinya saja, sementara yang sebelah kanan telah berubah warna
jadi merah. Kok bisa? Pikirnya. Ternyata
sendalnya tertukar dengan jamaah masjid yang lain. Terpaksa ia pakai saja.
Meski begitu ia masih bersikeras pergi kepesta pangeran nugrah. Entah apa yang
ia cari, mungkin makanannya kali yaa...
Ditengah jalan, tiba-tiba hujan dengan gemuruh
dahsyatnya datang, sijelek mencoba menepi kepinggir jalan dan duduk sebentar
disitu. Tapi emang dasar nasib sijelek jelek, tiba-tiba ada mobil lewat dan ia
kecipratan genangan hujan yang kotor, lecek, bau, butek, agak jamuran dan
lumutan, pokoknya kotor.
Sijelek hanya bisa menangis saja saat itu, tak tau
apa lagi yang harus diperbuat.
Jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sebelas
malam, ia tau keluarga Lee Ha Ki dan Han Rae Ra sebentar lagi akan pulang dari
pesta pangeran nugrah, makanya dia segera pulang.
Sesampainya dirumah, betapa sial dia. Keluarga
yang kece-kece itu sudah menunggunya dengan geram di depan rumah. Sebagian
membawa tongkat, parang dan golok. Sebagian lagi sudah siap dengan senapan dan
samurainya yang berkilauan. Sijelek tidak bisa apa-apa lagi selain pasrah.
“kemana aja kamu huh?” tanya sang ibu, Han Rae Ra
“ttadi saya mau ikut pesta bu, tapi..”
“sudah dibilangin kamu gaboleh dateng. Emang mau
apasih kamu pake mau dateng kepesta calon suami saya?” bentak nadiyya tak mau
kalah
“aku hanya ingin keluar dari sini sesekali... aku
bosan dirumah saja”
“kalau kau bosan... sekalian saja keluar selamanya
dari rumah ini! Kamu boleh pergi sekarang!” ucap Ha Ki garang sambil melempar
barang-barang sijelek seperti obeng, kunci inggris dan botol oli.
(emangbengkel????#)
“sana kamu pergi dan jangan kembali lagi
kesini..!” usir nuvi
“maaf... aku bukannya ingin begitu...” sijelek
menangis
“mending sekarang, kamu pergi aja dari sini dari
pada rambut kamu aku bikin satu dua satu! Mau? Atau mau juga setiap kesalahan
aku kasih kamu hukuman satu seri? Satu serinya 50 push-up!” tambah aya dengan
nada mengancam
Akhirnya sijelek memutuskan untuk pergi saja, ia
tidak mau rambutnya jadi satu dua satu kaya anak paskibra.
Dirumah keluarga Lee Ha Ki dan Han Rae Ra
Sekeluarga itu mengadakan pesta besar-besaran
kepergian sijelek. Mereka mengundang ibunya ayi yang baru saja pulang dari
amerika abis ngabisin harta keluarga orang, intan.
Selidik punya selidik, intan itu tantenya sijelek
yang dulu buang dia. Ibu dan bapak sijelek itu sebenernya orang berada Cuma aja
mereka kecelakaan terus metong gara-gara nyariin sijelek yang dibuang sama
tante cantiknya yang bernama intan. Semua harta ortunya sijelek jatuh ketangan
intan. Sebuah apartement mewah di amsterdam, rumah di new york, segudang uang
dan beberapa hektar sawah disukabumi.
Sementara itu, sijelek menderita dijalanan.
Hidupnya tidak lebih baik dari pada dirumah mewah itu.
Sijelek mulai merindukan makanan pokok
sehari-harinya, makanan cemong. Disini ia tidak bisa dapatkan itu. Karena
tuntutan cacing cacing diperutnya dan demo besar besaran komite cacing didalam
perutnya yang keroncongan, sijelek memutuskan untuk berjuang bekerja.
Sampai suatu
hari.....................................................................................................