Senin, 04 Maret 2013

~Cinderella False~








Part I
                                                                                                                                                                                               

Seorang wanita berjubah hitam berjalan menembus gelapnya malam yang disertai hujan lebat. Sosok itu membawa sebuah keranjang bayi yang setelah itu ia letakkan didepan sebuah rumah yang bak istana. Wanita itu mengeluarkan secarik kertas dari kantong jubahnya, segera ia tuliskan beberapa patah kata dan menaruh kertas itu didalam keranjang.
Gemuruh menggelegar seketika wanita itu berbondong lari. Terdengar tangisan bayi yang menyebalkan dan serasa merusak gendang telinga. Sang pemilik rumah terbangun seketika dan memeriksa kedelapan anaknya, ternyata tidak ada yang menangis. Ia lalu berjalan kedepan dan menemukan sosok bayi perempuan jelek yang sepertinya di buang dan tidak diinginkan lagi oleh orang tuanya. Ia menggendong bayi itu jijik. Ia melihat sekeliling, tak ada siapapun. Akhirnya dia membawa bayi jelek itu masuk dengan enggan. Bukan karena kasihan, tapi karena berisik. Lelaki kepala rumah tangga itu, Ha Ki, segera menuju kedapur dan mengambil sepotong roti dikulkas, lalu ia sumpal mulut bayi jelek itu agar tidak berisik, ia taruh dilantai dapur, dan dia kembali tidur.
“Dasar bayi jelek! Mengganggu tidurku saja. Diam kau disini” ucap Ha Ki seraya meninggalkannya.

Keesokan harinya
“aaaaaaa!!!” teriak Rae Ra
Ia kaget bukan kepalang melihat ada bayi jelek yang tidur dilantai dapurnya. Seketika ia mengangkat bayi itu, melemparnya, dan segera membersihkan lantai itu dengan cairan pembersih, anti septic, pembersih lagi, dan anti septic lagi.
“Suamiku,,,, siapa anak ini?”
“oooh... itu anak jelek yang tidak diinginkan oleh keluarganya lagi”
“dari mana kau temukan? Apa kita akan mengasuhnya? Anak kita saja ada 8 perempuan dan mereka cantik-cantik. Aku takut anak ini menularkan virus jeleknya kepada putri kandung kita”
“didepan pintu.. eehh najong banget ngasuh tuh anak.. ayah ambil dia buat jadi pembantu! Kan penghematan. Engga juga sih... virus jelek dia gabakal nular ko ke anak-anak kandung kita. Mereka mah cantiknya udah mutlak. Lagian kan ibu sama bapaknya juga kece. Gak kaya tuh anak. Pasti bapak ibunya blangsak makanya buang anak sendiri”
“iya juga ya ayah.... yaudah deh.. trus sekarang nih anak jelek taro mana?”
“sementara belom bisa disuruh dan disiksa sih taro digudang aja dulu”
“makanannya?”
“kasih aja makanannya si cemong kucingnya Wahyuni.. kan cemong kalo makan suka ga abis. Mubazir. Kasih aja kedia”
“oke yaaah”

15 tahun kemudian................
Sijelek tumbuh besar dengan jelek yang tidak sewajarnya. Hidupnya penuh dengan cacian, makian dan siksaan dari berbagai pihak dirumah itu. Dirinya selalu salah karena memang dia tidak pernah benar. Dia tidak sekolah karena tidak ada yang sudi membiayainya sekolah, dan kini cemong pun sudah memilih untuk menghabiskan makanannya dari pada harus berbagi dengan si jelek.
Sedangkan kedelapan putri kandung Lee Ha Ki dan Han Rae Ra tumbuh dengan amat cemerlang, mereka cantik, pintar dan berguna dimasyarakat. Mereka sekolah di International School dan semuanya mempunyai seorang kecengan pangeran yang kaya dan tampan. Sebut saja Aga sebagai kecengan Ade, Ali sebagai kecengan Asrini, Robby sebagai kecengan Isrotun, Nugrah sebagai kecengan Nadiyya, Ageng sebagai kecengan Nuvi, xxxxxx Sebagai kecengan Sakinah, Ayi sebagai kecengan Aya dan Massa sebagai kecengan Wahyuni. Sedangkan sijelek? Sijelek? Sijelek? Kalau ia lewat, para lelaki pada menyorakinya “sijeleksijeleksijeleksijelek” sampai sampai ada tarif 5000 untuk setiap sekali menyebut “sijelek” tapi uangnya bukan untuk sijelek, melainkan untuk keluarga Lee Ha Ki dan Han Rae Ra yang makin kaya raya dan bahagia sekarang.

Hari ini ada pesta dansa dirumah pangeran Nugrah dan semua keluarganya Nadiyya diundang kecuali sijelek.
“jelek... jelek... mana sepatu aku?” kata nuvi
“jelek... cepet sisir rambut aku! Robby dah nungguin dibawah” kata isrotun
“sebentar... tangan aku cuma dua” jawab sijelek
“ya pokoknya kita gamau tau! Mau tangan kamu satu, dua, tiga, yang penting gaun aku cepetan... aku mau tampil cantik dipesta nugrah! Aku gamau malu maluin dia” kata nadiyya seraya memakai bedak yang membuatnya tambah cantik
“nih anak jelek pake jawab lagi! Udah deh niih semir sepatu aku! Biar kinclong kaya muka aku” tambah ade
“jelek! Kamu belum kasih cemong parfum! Cepet donk... lelet amat sih” seru wahyuni heboh sembari membawa cemong.
Setelah semua itu selesai,
“sakinah, kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu “ kata sijelek yang nyadar kalo dirinya pembantu
“engga sekarang” jawab sakinah singkat
“jadi kapan?”
“nanti”
“ayodongg.. kan aku juga mau siap-siap. Seluruh keluarga ini diundang kan sama pangeran nugrah?”
“helloooww.... keluarga ini aja yaa... keluarganya aja bukan pembantunya!” seru aya sebel sambil menjambak rambut sijelek gemas (bagian final#)
“aduuhh.. aduhh... aku juga kan?”
“emang kamu ngerasa jadi keluarga ini huh???? Kamu itu disini nothing! Galebih penting dari sapi perah yang Cuma kita butuhin tenaganya aja” seru Rae Ra sang ibu sambil menumpahkan seember baju kotor keatas kepala sijelek
“cuci tuh semuanya! Dan besok pagi harus udah kering” kata asrini sambil menaruh baju kotornya juga
“awas aja kalau sampe kita pulang dan ini semuanya belum beres.... awas kamu!” ancam Rae Ra
“beresin rumah juga!” tambah Ha Ki
“tapi yaah.. rumah ini sudah bersih. Tadi sore aku sudah membereskannya”
“bersih?? Bersih?????? Bersih kata kamu?! Girl.....” panggil Ha Ki ke anak-anaknya
“iya ayah” jawab mereka serempak
“rumah ini bersih??”
“sekarang iya, tapi enggak lagi” kata aya menumpahkan secangkir kopi kelantai sambil mendorong si jelek hingga jatuh (bagian final lagi#)
“sekarang lebih kotor dan berantakan” asrini memecahkan dua buah piring kotor bekas makanan cemong
“ttapi... tapi aku gabisa nyuci ini ibu... tangan aku alergian” kata sijelek memelas dengan muka sedihnya yang jelek itu.
“alergi?? Halahhh.. gamau tau!” kata Rae Ra
Akhirnya keluarga besar itu pergi kepesta pangeran nugrah. Sementara si jelek hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang jelek itu dipojokan.
Tiba-tiba...
Criiiiiinnnggggg#
Datanglah sesosok ibu peri cantik,
“ibu peri? Apakah kau akan menolongku?” ucap sijelek
Ibu peri melongok kaget.
“maaf maaf... apa ini rumah cinderella? Perasaan cinderella cantik deh... kamu cinderella bukan?”
“bukan”
“jiaah ibu peri salah alamat dehh... yaudah deh ibu peri buru-buru mau kasih sepatu kaca buat cinderella yang asli”
“ibu peri tunggu” cegah si jelek
“ada apa?”
“ttapi ibu peri, nasib aku juga seperti cinderella niih.. berikanlah aku juga sepasang sepatu kaca untuk pergi kepesta pangeran nugrah”
“ooh tidak bisaa.. maaf sekali, stok sepatu kacanya tinggal satu, kalau kamu mau ada sih sendal jepit swallow. 6.000an aja sih.. eumm karena tampangnya gamemungkinkan ibu peri kasih discon deeh jadi 5.950 aja. Niih mau yang ijo apa kuning?”
“ibu peri ko gitu?”
“mau engga?? Ayodong cepetan iih lelet deh”
“iya deh.. aku mau yang kuning ya...”
“yaudah niih sini mana duitnya”
“niih” sijelek menyodorkan uang 6.000
“gada kembali. Disconnya gajadi! Ddaah”
Criiiiiiiinnnggggg#
Ibu peri itu kembali menghilang.
Sijelek memandangi sendal jepit yang ada ditangannya, lalu ia memakainya. Ia nekat kabur demi bisa kepesta pangeran nugrah. Ia tau peraturannya tidak boleh lebih dari jam 12 malam, makanya dia buru-buru keluar mengingat waktu sudah pukul setengah delapan.
Dijalan terdengar suara azan isya’ berkumandang. Ia memutuskan untuk sholat isya’ dulu dimasjid terdekat. Setelah sholat, kebiasaan jeleknya kambuh. Ceramahin orang seenak hati sampai tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia segera keluar dari masjid dan betapa kaget bukan kepalang ketika ia melihat sendal swallow kuningnya hanya tinggal sebelah kirinya saja, sementara yang sebelah kanan telah berubah warna jadi merah. Kok bisa?  Pikirnya. Ternyata sendalnya tertukar dengan jamaah masjid yang lain. Terpaksa ia pakai saja. Meski begitu ia masih bersikeras pergi kepesta pangeran nugrah. Entah apa yang ia cari, mungkin makanannya kali yaa...
Ditengah jalan, tiba-tiba hujan dengan gemuruh dahsyatnya datang, sijelek mencoba menepi kepinggir jalan dan duduk sebentar disitu. Tapi emang dasar nasib sijelek jelek, tiba-tiba ada mobil lewat dan ia kecipratan genangan hujan yang kotor, lecek, bau, butek, agak jamuran dan lumutan, pokoknya kotor.
Sijelek hanya bisa menangis saja saat itu, tak tau apa lagi yang harus diperbuat.
Jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, ia tau keluarga Lee Ha Ki dan Han Rae Ra sebentar lagi akan pulang dari pesta pangeran nugrah, makanya dia segera pulang.
Sesampainya dirumah, betapa sial dia. Keluarga yang kece-kece itu sudah menunggunya dengan geram di depan rumah. Sebagian membawa tongkat, parang dan golok. Sebagian lagi sudah siap dengan senapan dan samurainya yang berkilauan. Sijelek tidak bisa apa-apa lagi selain pasrah.
“kemana aja kamu huh?” tanya sang ibu, Han Rae Ra
“ttadi saya mau ikut pesta bu, tapi..”
“sudah dibilangin kamu gaboleh dateng. Emang mau apasih kamu pake mau dateng kepesta calon suami saya?” bentak nadiyya tak mau kalah
“aku hanya ingin keluar dari sini sesekali... aku bosan dirumah saja”
“kalau kau bosan... sekalian saja keluar selamanya dari rumah ini! Kamu boleh pergi sekarang!” ucap Ha Ki garang sambil melempar barang-barang sijelek seperti obeng, kunci inggris dan botol oli. (emangbengkel????#)
“sana kamu pergi dan jangan kembali lagi kesini..!” usir nuvi
“maaf... aku bukannya ingin begitu...” sijelek menangis
“mending sekarang, kamu pergi aja dari sini dari pada rambut kamu aku bikin satu dua satu! Mau? Atau mau juga setiap kesalahan aku kasih kamu hukuman satu seri? Satu serinya 50 push-up!” tambah aya dengan nada mengancam
Akhirnya sijelek memutuskan untuk pergi saja, ia tidak mau rambutnya jadi satu dua satu kaya anak paskibra.


Dirumah keluarga Lee Ha Ki dan Han Rae Ra
Sekeluarga itu mengadakan pesta besar-besaran kepergian sijelek. Mereka mengundang ibunya ayi yang baru saja pulang dari amerika abis ngabisin harta keluarga orang, intan.
Selidik punya selidik, intan itu tantenya sijelek yang dulu buang dia. Ibu dan bapak sijelek itu sebenernya orang berada Cuma aja mereka kecelakaan terus metong gara-gara nyariin sijelek yang dibuang sama tante cantiknya yang bernama intan. Semua harta ortunya sijelek jatuh ketangan intan. Sebuah apartement mewah di amsterdam, rumah di new york, segudang uang dan beberapa hektar sawah disukabumi.


Sementara itu, sijelek menderita dijalanan. Hidupnya tidak lebih baik dari pada dirumah mewah itu.
Sijelek mulai merindukan makanan pokok sehari-harinya, makanan cemong. Disini ia tidak bisa dapatkan itu. Karena tuntutan cacing cacing diperutnya dan demo besar besaran komite cacing didalam perutnya yang keroncongan, sijelek memutuskan untuk berjuang bekerja.
Sampai suatu hari.....................................................................................................

0 komentar:

Posting Komentar

 

erpeel ◠‿◠ Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template